Katanya hidup itu harus work-life balance. Kerja iya, hidup iya, biar seimbang. Teorinya cakep banget, apalagi kalau ditulis di slide motivator dengan font gede dan gambar orang yoga di pantai. Nyatanya? Seimbang dari mana? Kalau gaji sebulan cuma numpang lewat kayak iklan YouTube, siapa yang bisa sok-sokan hidup balance?
Hidup itu nggak kayak timbangan pasar yang bisa yang bisa ditambahin beban biar jarumnya pas. Hidup lebih mirip saldo rekening: manis di awal bulan, ngenes di minggu kedua, terus tinggal serpihan di minggu ketiga. Jadi kalau ada yang bilang, “Harus seimbang dong antara kerja dan hidup,” ya boleh sih, asal dia siap nraktir kopi tiap nongkrong..
Perubahan itu keniscayaan, kata para filsuf. Tapi di dunia nyata, perubahan yang paling rajin itu harga cabai sama tarif ojol. Kita bisa bikin jadwal rapi pake Google Calendar, tapi hidup punya cara sendiri buat ngerusak. Lagi Zoom meeting, eh tukang sayur lewat. Lagi deadline, anak malah ngajak main. Lagi ngetik serius, listrik mati. Ya Allah… balance dari mana coba?.
Realitanya, dunia memang nggak adil. Ada orang yang bisa healing ke Bali tiap bulan, ada juga yang healing-nya rebahan sambil scroll TikTok, itu pun kuota habis sebelum hatinya sempat sembuh. Jadi daripada maksa semua seimbang, mending jujur aja: hidup itu soal prioritas. Mana yang penting, itu duluan. Sisanya? Nunggu gilirannya, kayak antre di warung bakso pas jam makan siang.
Ambil contoh ibu bekerja. Pagi-pagi harus masak, siapin anak, masuk kerja, rapat, laporan. Pulang masih harus senyum ke suami. Bagus sih kalau bisa. Tapi kalau masakan gosong, laporan telat, anak ngamuk—apakah dunia kiamat? Enggak. Itu manusiawi. Hidup bukan lomba 17-an yang semua cabang harus dimenangin. Kadang kalah tarik tambang juga nggak apa-apa.
Generasi sekarang juga sama aja. Semua serba instan. Pengen sukses, cantik, kaya, bahagia… semua dalam sekali tekan tombol. Padahal, bahkan Indomie aja butuh lima menit direbus. Kalau nggak ada air panas? Wassalam. Jadi jangan sok-sokan pengen hidup instan sempurna, nanti ujungnya malah gosong kayak mie kelamaan di panci.
Tren populer juga nggak kalah bikin pusing. Ada jargon self-love, healing, me-time, balance. Bagus sih, tapi kalau ditelan mentah-mentah bisa bikin sakit perut. Orang sibuk ngejar self-love, tapi lupa bayar cicilan. Ngejar healing, malah stress mikirin biaya hotel. Ngejar me-time, tapi baru duduk sebentar udah dipanggil grup WA kerja. Lah, me-time di mana?
Makin ke sini, makin jelas kalau work-life balance itu mirip mantan: manis di awal, bikin senyum-senyum sendiri, tapi ujungnya nyisain sakit kepala. Jadi jangan buang energi buat cari “keseimbangan” yang nggak akan pernah ada. Mending buang energi buat nyari strategi prioritas. Mau fokus kerja? Silakan. Mau fokus keluarga? Monggo. Mau fokus nabung biar bisa beli ayam goreng tiap minggu? Itu juga prioritas. Yang salah itu kalau maksa semua harus mulus dan rapi, kayak iklan sabun.
Pada akhirnya, hidup itu bukan tentang seimbang, tapi tentang berani bilang “Oke, bulan ini prioritas gue bayar listrik dulu, healing belakangan.” Karena jujur aja, tenang pikiran itu datang bukan dari pantai Bali, tapi dari notifikasi listrik PLN yang bilang “tagihan sudah dibayar.” Jadi kalau ada yang masih ngeyel bilang “hidup harus balance,” kasih aja timbangan pasar. Suruh ukur, seimbang nggak antara gaji sama biaya hidup? Kalau belum, udah lah, jangan banyak teori. Hidup itu bukan seminar motivasi. Hidup itu warung kopi: kadang manis, kadang pahit, tapi selalu enak kalau bisa ditertawakan bareng-bareng.