Aspasia Coffee – part 2

Postingan tentang kedai kopi sebelumnya, Aspasia Coffee jauh dari tuntas, mari lanjutkan walaupun tidak akan tuntas juga, haha..

Bicara tentang dunia usaha, sebagai pengelola dan pemilik usaha atau pelaksana usaha kecil wirausaha dapat memilih dan melakukan tiga cara yang dapat dilakukan oleh seseorang apabila ingin memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha yaitu:

  1. Merintis usaha baru (starting)
  2. Dengan membeli perusahaan orang lain (buying)
  3. Kerjasama manajemen (franchising)

Kami melakukan merintis usaha baru untuk Aspasia Coffee, diawali dengan adanya ide, mencari sumber dana dan fasilitas barang, uang, dan orang, memperhatikan pasar dan peluang pasar.

Ngopi di Hutan

Sebagai orang yang terbiasa bekerja pada perusahaan, dan belum pernah punya pengalaman memiliki usaha sendiri, tentu perlu mempelajari segala hal terkait wirausaha.

Yang kami lakukan adalah fokus turun tangan secara langsung, mulai dari pembangunan sarana, alat dan bahan, pengetahuan tentang produk, mencari supplier, bekerjasama dengan mitra, teknis produksi, hubungan konsumen, struktur biaya, dan sebagainya.

Perjalanan ini sungguh tidak mudah, saya yakin bahwa semua pelaksana usaha kecil memiliki ciri khas dan perjuangannya masing-masing. Alhamdulillah, dirintis mulai pertengahan tahun 2017 dan sampai saat ini tahun 2023 Aspasia Coffee masih tetap berjalan. Semoga masih tetap bertumbuh di tahun tahun mendatang.

Salah satu usaha menciptakan etika bisnis yaitu dengan cara memelihara kesepakatan atau menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati, pada pelaksanaannya ini merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi.

Bahasa kasarnya, kalau belum pernah ditipu atau belum pernah rugi, belum dianggap sebagai wirausahawan. Maka jika ada pertanyaan, pernah ditipu? pernaahhh. Pernah rugi? sering. hahaha. Jadi hal terberat lainnya adalan menumbuhkan mental Kewirausahaan.

Banyak hikmah dan pelajaran yang didapat dari hal ini, dan tentu kami sangat bersyukur atas segala sesuatunya.

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Aspasia Coffee

Apa pula yang terlintas di benaknya ? Buka kedai Kopi ? Beneran ? Kenapa harus kedai Kopi ? dimana, bagaimana, siapa, prosesnya, dan segala macam pertanyaan pertanyaan kemudian berseliweran di kepalaku.

Dua tahun lebih awal dari kontrak yang seharusnya berakhir, suamiku Gio menyudahinya di awal tahun 2017. Jadilah ia pulang bersama Azmi di bulan Januari, sementara saya sudah lebih dulu pulang di bulan September 2016.

Berbekal ketidak tahuan mengenai kopi, suamiku Gio memberanikan diri untuk urunan dengan beberapa teman, buka kedai kopi! Alhamdulillah saya bisa mendampingi prosesnya, membantu memberi masukan dan ide, mengingatkan akan resiko yang bisa timbul, dan tentunya membantu dalam hal pencatatan apapun terkait pekerjaan ini.

Fokus kami saat itu bukan untuk berbisnis, tapi bagaimana proses pemindahan sekolah Azmi dari Lae, Papua New Guinea kembali ke sini masuk SMA, karena disana dia sudah kelas 10. Ternyata prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Selain perbedaan kurikulum pelajaran juga berbeda waktu tahun ajarannya.

Tahun ajaran baru di Papua New Guinea dimulai setiap awal tahun, artinya ada selisih sekitar 1 semester dengan tahun ajaran baru di Indonesia. Sehingga selisih waktu itu kami pergunakan untuk mengurus segala kelengkapan dokumen pendukung agar bisa dilakukan penyetaraan Ijasah dan masuk di SMA disini. Dilanjutkan proses pendaftaran ke sekolah yang dituju, sama tidak mudahnya dan harus melalui proses ujian Bahasa Indonesia dulu agar sesuai dengan kurikulum nasional Indonesia. Ijasahnya Azmi tidak ada nilai ujian Bahasa Indonesia, harap maklum. Akhirnya pada waktunya, Alhamdulillah masuk di SMK Negeri kelas 10 lagi, artinya turun satu kelas dibanding teman temannya disini. Kami besarkan hatinya dan tetap memotivasi supaya tetap semangat, dan yang jelas tidak jadi masuk SMA. Kemudian SMK nya jurusan apa? jurusan Tata Boga. Iya, jurusan masak.

Eitts, ini sebenarnya mau cerita kedai kopi atau pindah sekolah sih ? hehe

bangunan awalnya nih …

(ini draft blog terlama, setelah mengendap 3 tahun, baru di publish sekarang) .. muupkaaann

Cerita selanjutnya tentang Aspasia Coffee, postingan berikutnya yaaa … 🙂

Cerita tentang Kopi

Minum kopi menjadi budaya yang tidak terbantahkan, laki laki perempuan, tua muda, miskin kaya semua punya hak yang sama untuk menikmati kopi, apakah itu kopi sachet di warung seharga tiga ribu rupiah ataupun kopi kualitas gengsi dari biji kopi pilihan seharga tiga puluh ribuan rupiah.

Mengenal biji kopi ketika kecil, terbiasa melihat bapakku mulai panen kopi dari kebun halaman rumah, menjemur cherry merahnya itu sampai kering, #dan sekarang tahu bahwa proses tersebut dikenal dengan istilah ‘Natural Process’. Lalu menumbuknya untuk menghilangkan kulitnya. Setelah bersih kulitnya, biji kopinya sebagian dijual dan sebagian lainnya di sangrai. #proses sangrai pada masa sekarang ini dengan mesin ‘Roasting’ yang berbeda-beda metodenya, tentunya akan sangat mempengaruhi rasa.

Proses sangrai bagiku adalah bagian yang menyenangkan, aroma kopi yang khas menebar ke seluruh ruangan. Hasil sangrai tadi, setelah dingin kemudian ditumbuk, alatnya lisung/jubleg dan halu. #siapa yang tidak tahu alat apakah itu, ayo googling aja ya, hehe. Bukan ‘halu’ di istilah jaman sekarang yang artinya berhayal atau halusinasi. Untuk menghaluskan biji kopi yang telah di sangrai ini, jangan bayangkan menggunakan mesin grinder yang saat ini banyak di jual di pasaran, tapi menggunakan lisung/jubleg dan halu tersebut. Setelah ditumbuk halus, kopi akan di saring dengan saringan yang lembut, supaya didapat tekstur bubuk kopi yang halus.

Esok harinya, bapak sudah bisa menikmati secangkir kopi hitam. Lalu saya? Ah masih kecil, belum jadi penikmat kopi, jadi hanya memperhatikan saja semua proses itu. # Al Fatihah buat bapak dan ibu, I miss U.

Waktu berlalu dengan cepat, dan saya menjadi penikmat kopi sachet awalnya, paling sekali kali menjajal kopi yang dijual di kedai-kedai kopi untuk menghilangkan kepenasaranan akan rasanya.

Berkehidupan di Papua New Guinea 2010 membuat saya mulai mengenal dan menyukai kopi berasal dari Biji Kopi asli, walaupun rasanya pahit. Kopi tidak pernah ingkar, ia tetap hitam dan pahit, dan kopi tidak memilih siapa yang akan meminumnya.

Tidak selamanya yang hitam itu kelam dan yang pahit itu menyebalkan, hehe. Kopi membalikkan fakta itu.

Film Filosofi Kopi menaikkan rating minum kopi. Kasus kematian Mirna akibat Vietnam Ice Coffee yang dicampur sianida oleh Jessica juga meningkatkan citra kopi

Kopi tanpa gula adalah kopi yang jujur. Dia tak perlu bermanis-manis di mulut. Tanpa ragu menunjukkan jati diri pada sang peminumnya.

Secangkir kopi adalah cerita cinta .. Itulah ceritaku tentang kopi, mana cerita kopimu ? hehe

Design a site like this with WordPress.com
Get started