Aspasia Coffee – part 2

Postingan tentang kedai kopi sebelumnya, Aspasia Coffee jauh dari tuntas, mari lanjutkan walaupun tidak akan tuntas juga, haha..

Bicara tentang dunia usaha, sebagai pengelola dan pemilik usaha atau pelaksana usaha kecil wirausaha dapat memilih dan melakukan tiga cara yang dapat dilakukan oleh seseorang apabila ingin memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha yaitu:

  1. Merintis usaha baru (starting)
  2. Dengan membeli perusahaan orang lain (buying)
  3. Kerjasama manajemen (franchising)

Kami melakukan merintis usaha baru untuk Aspasia Coffee, diawali dengan adanya ide, mencari sumber dana dan fasilitas barang, uang, dan orang, memperhatikan pasar dan peluang pasar.

Ngopi di Hutan

Sebagai orang yang terbiasa bekerja pada perusahaan, dan belum pernah punya pengalaman memiliki usaha sendiri, tentu perlu mempelajari segala hal terkait wirausaha.

Yang kami lakukan adalah fokus turun tangan secara langsung, mulai dari pembangunan sarana, alat dan bahan, pengetahuan tentang produk, mencari supplier, bekerjasama dengan mitra, teknis produksi, hubungan konsumen, struktur biaya, dan sebagainya.

Perjalanan ini sungguh tidak mudah, saya yakin bahwa semua pelaksana usaha kecil memiliki ciri khas dan perjuangannya masing-masing. Alhamdulillah, dirintis mulai pertengahan tahun 2017 dan sampai saat ini tahun 2023 Aspasia Coffee masih tetap berjalan. Semoga masih tetap bertumbuh di tahun tahun mendatang.

Salah satu usaha menciptakan etika bisnis yaitu dengan cara memelihara kesepakatan atau menumbuh kembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati, pada pelaksanaannya ini merupakan salah satu kendala yang sering dihadapi.

Bahasa kasarnya, kalau belum pernah ditipu atau belum pernah rugi, belum dianggap sebagai wirausahawan. Maka jika ada pertanyaan, pernah ditipu? pernaahhh. Pernah rugi? sering. hahaha. Jadi hal terberat lainnya adalan menumbuhkan mental Kewirausahaan.

Banyak hikmah dan pelajaran yang didapat dari hal ini, dan tentu kami sangat bersyukur atas segala sesuatunya.

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Jalan jalan ke Gunung di area Bandung

Sebelum cerita jalan-jalan ke Laut, Yuk jalan-jalan ke gunung dulu, beberapanya saja yang ada di sekitar Bandung, relatif dekat dari rumah.

Gunung atau Laut sama indahnya ..

Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan (Qs 55:24-25)

Kalau ditanya, lebih suka gunung atau laut ?
Saya lebih suka gunung.

Yang pertama, Ciwidey
Ciwidey adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung, letaknya di sebelah Kota Bandung, berada di ketinggian 1.200 mdpl. Memiliki sejumlah objek wisata. Tempat wisata di Ciwidey cukup beragam dan hits, beberapa diantaranya adalah Kawah Putih, Bukit Jamur, Kawah Rengganis, Situ patenggang, Ranca Upas, Pemandian Air Panas Ciwalini, Perkebunan Teh Rancabali, dan masih banyak yang lainnya.
Selain menyuguhkan udara yang sejuk, pemandangan alam yang tersaji juga masih asri dan indah. Tak heran banyak orang-orang di perkotaan mengincar wisata di Ciwidey.
Akhir pekan atau hari libur, macet dong jalan menuju Ciwidey.
Jadi biasanya, saya ke Ciwidey di hari biasa dan pagi sekali, supaya tidak terjebak kemacetan.

Dari sekian tempat yang telah dikunjungi, ini salah satunya di Ranca Upas

Kedua, Curug Malela Gunung Halu
Kabupaten Bandung Barat memiliki ragam tempat wisata alam yang layak dikunjungi. Gunung Halu berada di ketinggian 931 mdpl. Salah satu tempat wisata alam yang populer di sana adalah Curug Malela.

Curug Malela merupakan salah satu program unggulan destinasi wisata yang didanai oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Salah satu air terjun terbesar di Jawa Barat. Infrastruktur akses dan ruang istirahat untuk pengunjung sudah diperbaiki agar nyaman dan tidak berpotensi mengotori lingkungan. Lokasi Curug Malela berada di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Untuk menuju curug, setelah memarkirkan kendaraan, bisa dilakukan dengan dua cara yaitu jalan kaki, atau menggunakan ojeg.
Kalau mau berjalan kaki, tinggal menyusuri jalan yang telah disediakan, kondisi jalan menurun dengan jalur trekking kebanyakan berupa tanah dan akan licin jika basah, maka berhati-hatilah.
Ojeg yang tersedia sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu melaju di jalan tanah dan berlumpur. Kalau motor biasa jangan harap bisa menempuh jalur ini yaa.
Siapkan jiwa dan raga untuk turun ke Curug Malela dan naik lagi setelahnya, Cape mbasis, masbrow, hahaha.

Ini pemandangan di pit stop ke tiga dari atas, dan kita akan menuju ke bawah ituuu

Udah nyampe bawah seneng, trus ga lama kemudian, kebayang perjuangan naik nya lagi, hahaha

Ketiga, Venue Gantole
Bukit Gantole Cililin atau yang dikenal juga dengan sebutan Venue Gantole. Merupakan sebuah kawasan wisata di Bandung Barat yang awalnya dibuka untuk tujuan terselenggaranya Porda Jabar 2010. Dan juga Pekan Olahraga Nasional 2016 Cabang olahraga Paralayang. Kawasan wisata ini menjadi buah bibir setelah menjadi tuan rumah penyelenggaraan PON 2016.

Olahraga paralayang sendiri merupakan jenis olahraga yang dilakukan diatas lereng bukit atau gunung dengan hanya memanfaatkan angin sebagai sumber utama. Oleh karenanya lokasi Bukit Gantole Cililin berada diketinggian 1063 Mdpl dengan hempasan angin yang kencang sangat pas untuk olahraga ini.

Rute berangkat dari jalan Cililin Cihampelas, masuk dari jalan singajaya, dua kilometer sudah sampai di Venue Gantole. Jalan kecil , mulus dan jaraknya pendek, tapiii nanjaaaakkk ☺️ Pake acara jalan kaki dong sambil lirik kanan kiri liat pemandangan. Rute pulang tidak balik kanan, tapi melanjutkan jalan searah, jalan sama kecilnya, jarak lebih jauhh, sama naik turun, dan keluar dari jalan Cipatik Soreang.
Walaupun rute yang berbeda, pemandangan keduanya tetap luar biasa.

pemandangan yang menakjubkan

Keempat, Pangalengan
Sama seperti Ciwidey, Ada berbagai daerah di Bandung yang memiliki tempat wisata yang apik di Pangalengan dengan ketinggial 1600 mdpl. Wisata alam yang disajikan Pangalengan tak main-main indahnya. Panorama yang disajikan mampu memikat perhatian siapapun yang datang. Beberapa tempat wisata diantaranya: Datar Pinus Camp, Hutan Pinus Rahong, Sunrise Point Cukul Pangalengan, Situ Cileunca, Wayang Windu Panenjoan, dan masih banyak yang lainnya.

Beperjalanan kami untuk kesekian kalinya ke Pangalengan, kali ini tujuannya memandang sunrise di puncak giri, cukul, Pangalengan.
Dari rumah masih dini hari, dan sholat subuh sudah di Puncak giri, Cukul.
Rute berkelok di pagi gelap, terbayar sudah dengan pemandangan panorama alam yg ada.

pemandangan lainnya yang menakjubkan juga

Segini aja dulu ya, masih banyak gunung lainnya yang telah kudaki karena saya sebanarnya adalah seorang ninja hatori, hahaha…


Lain kali kita bercerita tentang kenangan indah lainnya.

Aspasia Coffee

Apa pula yang terlintas di benaknya ? Buka kedai Kopi ? Beneran ? Kenapa harus kedai Kopi ? dimana, bagaimana, siapa, prosesnya, dan segala macam pertanyaan pertanyaan kemudian berseliweran di kepalaku.

Dua tahun lebih awal dari kontrak yang seharusnya berakhir, suamiku Gio menyudahinya di awal tahun 2017. Jadilah ia pulang bersama Azmi di bulan Januari, sementara saya sudah lebih dulu pulang di bulan September 2016.

Berbekal ketidak tahuan mengenai kopi, suamiku Gio memberanikan diri untuk urunan dengan beberapa teman, buka kedai kopi! Alhamdulillah saya bisa mendampingi prosesnya, membantu memberi masukan dan ide, mengingatkan akan resiko yang bisa timbul, dan tentunya membantu dalam hal pencatatan apapun terkait pekerjaan ini.

Fokus kami saat itu bukan untuk berbisnis, tapi bagaimana proses pemindahan sekolah Azmi dari Lae, Papua New Guinea kembali ke sini masuk SMA, karena disana dia sudah kelas 10. Ternyata prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Selain perbedaan kurikulum pelajaran juga berbeda waktu tahun ajarannya.

Tahun ajaran baru di Papua New Guinea dimulai setiap awal tahun, artinya ada selisih sekitar 1 semester dengan tahun ajaran baru di Indonesia. Sehingga selisih waktu itu kami pergunakan untuk mengurus segala kelengkapan dokumen pendukung agar bisa dilakukan penyetaraan Ijasah dan masuk di SMA disini. Dilanjutkan proses pendaftaran ke sekolah yang dituju, sama tidak mudahnya dan harus melalui proses ujian Bahasa Indonesia dulu agar sesuai dengan kurikulum nasional Indonesia. Ijasahnya Azmi tidak ada nilai ujian Bahasa Indonesia, harap maklum. Akhirnya pada waktunya, Alhamdulillah masuk di SMK Negeri kelas 10 lagi, artinya turun satu kelas dibanding teman temannya disini. Kami besarkan hatinya dan tetap memotivasi supaya tetap semangat, dan yang jelas tidak jadi masuk SMA. Kemudian SMK nya jurusan apa? jurusan Tata Boga. Iya, jurusan masak.

Eitts, ini sebenarnya mau cerita kedai kopi atau pindah sekolah sih ? hehe

bangunan awalnya nih …

(ini draft blog terlama, setelah mengendap 3 tahun, baru di publish sekarang) .. muupkaaann

Cerita selanjutnya tentang Aspasia Coffee, postingan berikutnya yaaa … 🙂

Kontemplasi

Hai ..

Kemana aja selama 2022 ? sama sekali tidak update blog, bukan karena tidak ingin, tapi sungguh banyak hal lain yang dikerjakan.

Terimakasih 2022 telah memberi seluruh warna dalam kehidupanku. Diawali dengan begitu banyak cita-cita mulia dan ditutup dengan beperjalanan mlipir ke arah timur jawa, Alhamdulillah.

Perubahan adalah suatu keniscayaan, karena kita hidup bergerak, mengejar mimpi dan cita-cita yang entah menjauh atau mendekat. Waktu bukan hanya merubah kita menjadi tua tapi sekaligus merubah banyak kenyataan kehidupan.

Apa yang akan dilakukan kemudian ? hmmm

Belajar selalu untuk melihat baiknya hidup, insya Allah, semesta hidup pun akan selalu baik dan yang mendekat yang baik-baik. Menjadi diri sendiri, tidak perlu jadi sempurna karena tidak ada yang sempurna. Cukup terus berusaha memperbaiki diri. Belajar, belajar, belajar.

Purple Tea

Come, let us have some tea !


Minum teh bunga telang atau Blue Tea sudah biasa .. Lalu minum teh bunga telang ditambah lemon, juga sudah biasa.

Sekarang, level berikutnya untuk menikmati teh .. yup, Purple Tea
Gabungan dari bunga Rosella, White Tea dan bunga Telang.

Rasanya seperti apa? Hmm .. ringan khas white tea, segar dengan sedikit asam dari rosella, tidak ada bau langu dan warna ungu yang cantik.

Cobain deh, enak ..

white tea, rosella, bunga telang

si ungu yang siap di sruput

Moringa Oleifera Tea

Bismillah,

Mari minum teh …

Manfaat daun kelor bagi kesehatan tidak diragukan lagi, sebagai sumber vitamin dan mineral yang baik bagi tubuh, kaya akan antioksidan, dan sebagainya.

Ada banyak cara mengolah daun kelor untuk mendapatkan khasiatnya, entah untuk sayur, teh, jus, untuk kosmetik bahkan untuk pupuk organic cair.

Yuk bikin teh daun kelor sendiri …
Gampang sekali membuatnya :

  • Ambil daun kelor, tiga bagian dahan dari bagian pucuk
  • Cuci bersih
  • Ambil daunnya saja, lalu letakkan pada nampan yang telah diberi alas, dan keringkan dengan cara angin anginkan di tempat terbuka kurang lebih selama 7 hari.
  • Teknik pengeringan tidak dilakukan di bawah matahari langsung, untuk menjaga kandungan nutrisi
  • Setelah kering, simpan di tempat bersih dan kering, bisa juga di tumbuk halus lalu simpan.
  • Siap diseduh kapanpun, bisa ditambahkna madu jika menginginkan rasa yang lebih manis.

Selamat menikmati Moringa Oleifera Tea

pengeringan

Simpan dalam wadah bersih dan kedap udara, siap di seduh kapanpun

Hidup sehat merupakan sebuah pilihan.
Ikhtiar sehat salah satunya dengan mengkonsumsi makanan yang baik, halal dan thoyyib


Tetap jaga kesehatan ya teman teman semuaa ..

Tuhan Maha Pembulak Balik Hati

Ada yang salah dengan diriku, dengan langkahku.

Bagaimanapun, ingatan akan tetap berjalan, bersama tumpukan kisah yang berkelindan.

Ketenangan adalah yang dicari, sesederhana itu, jika yang terasa justru kehampaan, merasa sepi di tengah keramaian, maka rasanya pantaslah untuk bertanya kembali pada diri.

Setiap kali ada pengulangan kisah walaupun tidak sama namun tetap serupa, setiap kali itu pula kehawatiran, gelisah, ragu-ragu, dan segala rasa tidak nyaman itu muncul kembali, seolah segala energi yang dimiliki menguap tidak tersisa.

Usaha menenangkan diri sendiri silih berganti dengan kehilangan energi itu. Terkadang usaha yang dilakukan berhasil memenangkan pertarungan diri, untuk kemudian bisa tenang dan mengerjakan kewajiban yang harus dilaksanakan dengan baik namun tidak jarang usaha itu gagal dan semua energi terserap kedalam gelombang gelisah.

Kesadaran diri menjadi sangat berarti, segala nasihat, pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki, bahkan keyakinan bahwa orang yang kuat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan dan air mata. Seketika itu semua harus mampu ditanamkan kembali pada diri, agar menjadi kokoh dan tidah mudah goyah diterpa angin.

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” [HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]

Doa adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan.

”(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Āli ‘Imrān[3] : 8

#Apakah teman-teman pernah mengalami hal yang sama ?

Semoga kita semua selalu ada dalam lindunganNya

PNG Independence day! – Momase costume

16 September 1975 adalah hari kemerdekaan PNG atas berpisahnya dari Australia.

Kemerdekaan tanpa peperangan dari Australia tepatnya.

Ah usiaku lebih tua sedikit dari negara ini .. 🙂

Saya berkesempatan mengikuti Independence Day nya tahun 2011, menjelang setahunnya kami tinggal di negara kedua ini. #dan akhirnya mengikuti di beberapa tahun berikutnya juga, hehe

Masih tentang Mount Hagen, dan masih tetap banyak takjub dengan segala sesuatunya, budaya, adat, perilaku, dan banyak hal lainnya yang tentu tidak ditemui selama tinggal di Bandung.

Perayaan hari kemerdakaan disini tidak banyak acara, hanya ada pawai keliling kota dengan berpakaian adat, kota Mount Hagen sendiri hanya terdiri dari beberapa blok saja.

Tidak ada upacara bendera, menghias rumah dan tempat umum dengan simbol kebangsaan, apalagi keseruan lainnya seperti lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang dan lomba lomba lainnya seperti di Indonesia, hehe.

Azmi, karena dia bersekolah di IEA – International Education Agency of Papua New Guinea, kali ini berkesempatan berpakaian adat masing masing provinsi, dan salah satunya adalah Momase, khas dari provinsi Morobe.

Negara dengan luas wilayah 462.840 Km2 ini berpenduduk total hanya 7 juta jiwa saja di total 22 provinsi yang ada pada tahun ini – 2011, namun dengan lebih dari 850 bahasa lokal asli dan sekurang kurangnya sama banyaknya dengan komunitas komunitas kecil yang dimiliki.

Sementara Jawa Barat dengan luas wilayah 35.377,76 Km2 menurut Data SIAK Provinsi Jawa Barat tahun 2011 didiami penduduk sebanyak 46.497.175 Jiwa. Kebayang kan padatnya Jawa Barat seperti apa, hmm bagaimana pulalah padatnya 10 tahun ke depan.

Penduduk di Papua New Guinea merupakan salah satu yang heterogen di dunia. Kemajemukan ini terkadang menjadi sumber konflik disana. Mereka menyebut negara mereka sebagai Christian country.

Bahasa Inggris adalah bahasa resmi dan merupakan bahasa pemerintahan dan sistem pendidikan, tapi tidak banyak digunakan. Lingua franca utama dari negara ini adalah bahasa Tok Pisin atau Melanesian Pidgin. Biasa kita menyebutnya dengan istilah broken English.

Sebagian besar penduduk menetap di dalam masyarakat tradisional dan menjalankan sistem pertanian sederhana yang hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Saya tidak melihat ada sawah di sini. Mereka tidak mengetahui bagaimana bercocok tanam padi. Beras di datangkan dari negara negara tetangga, dan sebagian besar masih menggunakan ubi jalar sebagai bahan pokok.

Mount Hagen

Negara ini terletak di cincin api pasifik, terdapat sejumlah gunung berapi yang aktif. Gempa bumi cukup lazim terjadi. Hal lainnya, negara ini kaya akan sumber daya alam tapi eksploitasi terkendala oleh rupa bumi yang rumit, tingginya biaya pembangunan dan infrastruktur.

Cadangan mineral, berupa minyak bumi, tembaga dan emas menyumbangkan 72% perolehan ekspor. Dan yang tak kalah menarik, negara ini memiliki industri coklat dan kopi yang cukup bernilai.

Salah satu daerah penghasil kopi terbaik adalah Mount Hagen, dikenal sangat ideal untuk menanam kopi dengan iklim bersahabat dan kandungan tanah vulkanis yang kaya mineral. Pada umumnya kopi di budidayakan secara organik oleh petani tradisional di pekarangan rumah atau kebun yang tidak begitu luas, atau oleh beberapa perusahaan perkebunan dengan skema pembudidayaan yang lebih luas. ‘Coffee season’ yaitu pada masa panen raya kopi, menjadi saat yang ditunggu, karena berpengaruh terhadap perputaran perekonomian perdagangan. Ramai para petani kopi berbelanja segala kebutuhan keluarganya. Salah satu kopi yang terkenal di Mount Hagen adalah Banz Kofi, kopi Arabica Premium.

Banz Kopi .. they call ‘the King of Beans’

Namun, budaya minum kopi di Papua New Guniea sangat rendah. Penduduknya lebih menyukai kopi instan buatan Indonesia yang banyak dijual disana sekarang ini. Ironis. Selain itu, pemerintah juga kurang memberi perhatian khusus pada para petani kopi.

Padahal, kopi Papua New Guinea menempati posisi yang bagus di pasar internasional, terutama Amerika Serikat.

# sudahkah bangsa papua new guinea benar benar merdeka ?

#dan bagaimana dengan kita di Indonesia ? jawabnya ada pada diri masing-masing 🙂

Selamat menikmati secangkir kopi hitam pahit tapi ia jujur dan tidak berpura-pura harus manis

LDM

Long Distance Marriage

Menjalani sebuah pernikahan tapi berjarak jauh dari pasangan, tentu ini bukan hubungan yang ideal sebagai suami istri. Saya yakin setiap pasangan menginginkan hubungan dan kondisi yang ideal, tapi karena banyak hal, kondisi ini mungkin saja terjadi. Seperti saya dan banyak lagi pasangan lain di luar sana yang mengalaminya.

Pun pernikahan bukanlah tentang kenikmatan selamanya, tapi tentang hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh suami istri.

Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan memiliki resiko dan perjuangan masing masing.

Lalu kenapa memilih LDM? mungkin karena beberapa hal, bisa jadi karena tuntutan pekerjaan. Bisa jadi karena tuntutan pendidikan atau alasan-alasan lainnya.

Langkah awal berpindah ke negara lain karena tuntutan pekerjaan dan keinginan kuat untuk memperbaiki kehidupan. Senang karena bisa berpindah bersama-sama satu keluarga utuh. Namun kebahagiaan itu tidak lama, tempat pekerjaan kami terletak di daerah yang jauh dari kota dan tidak tersedia sekolah yang sesuai dengan usia anak pertama kami yang saat itu baru menginjak kelas 10.

Sekejap kondisi berubah drastis, panik dan tidak tahu harus bagaimana. Kami tidak menyangka sama sekali, karena hal ini sudah dibahas jauh-jauh hari sebelum kami menyetujui untuk berangkat. Kenyataannya belum genap satu bulan kami di sini, si sulung harus segera kembali ke Indonesia, atau dia tidak akan sekolah, miris. Kami galau, karena dia harus pulang sendirian! Padahal dia belum pernah bepergian jauh sendiri. Kami pasrahkan semua kepada yang Maha Penjaga, dan Alhamdulillah dia bisa selamat sampai di tujuan.

Satu tahun kemudian, hal serupa harus terjadi lagi pada anak kedua kami, kali ini bersamaan dengan jadwal cuti di tahun pertama. Kami bisa mengantar anak kedua kami untuk kembali dan dengan sangat berat hati harus tinggal berjauhan. Kedua anak kami tinggal bersama kakak saya.

Menjalani hidup berpisah jauh dari anak-anak adalah perjuangan. Sering kali emosi teraduk-aduk, perbedaan waktu dan komunikasi yang tidak selalu lancar, bercampur dengan beban pekerjaan yang berat, sungguh tidak mudah untuk dilewati.

Hanya doa-doa yang selalu dipanjatkan dalam diam dan hening kami. Tekad dan komitmen yang membuat kami bisa bertahan.

Di tahun ketiga, saya memutuskan untuk mengakhiri pekerjaan dan meninggalkan suami demi anak-anak. Saya kembali ke Indonesia, untuk perjuangan baru lainnya.

Bukan hal mudah ketika pasangan suami istri berkomitmen untuk menjalani LDM. Diperlukan kepercayaan dan keikhlasan, komitmen yang kuat, keterbukaan dan komunikasi. Tidak jarang kami beradu pendapat terutama masalah anak-anak. Berpisah dengan anak-anak selama 2 tahun membuat segalanya berubah. Seringkali saya merasa rapuh dan menangis di banyak malam.

Waktu saya diisi dengan melanjutkan kuliah, sehingga ada aktifitas yang saya jalani, dan saya tekadkan untuk fokus dan selesai tepat pada waktunya.

Jadi, apa yang kami lakukan untuk menjaga kehidupan kami?

Kepercayaan dan Ikhlas. Bohong jika saya tidak punya pikiran macam-macam pada suami. Tapi jika saya mengikuti kehawatiran saya, tentu akan habis energi saya. Begitupun suami, dia menaruh kepercayaan pada saya untuk menyelesaikan kuliah dengan sebaik-baiknya dan mengurus anak-anak. Kami ikhlas menjalaninya.

Komitmen. Kami memanfaatkan moment untuk saling mengingatkan niat dan tujuan awal ketika kami memulai langkah ini. Bagaimana kami sama-sama merangkak dari nol. Semua perjuangan yang kami lewati bersama, dan pencapaian yang kami dapat tidak ada yang cuma-cuma, tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Itu yang membuat kami mengingat komitment kami dan semakin kuat.

Komunikasi. Bersyukurlah pada teknologi, jarak yang tidak dekat bukan alasan untuk tidak menjadi dekat. Walaupun kadang di banyak waktu, jaringan yang jelek membuat jengkel. Tidak jarang juga kami bertengkar di telepon atau di WA terutama terkait perkembangan anak-anak, namun kami tetap berkomunikasi walaupun sulit. Hal itu tetap kami jaga demi menjaga cinta kami.

Suamiku memang bukan tipe laki-laki yang romantis, tapi dia menunjukkan cinta dan sayangnya dengan caranya sendiri, yang mungkin tidak sama dengan orang lain.

Disetiap jadwal cutinya per 6 bulan sekali dia pulang, kami selalu meluangkan waktu hanya untuk berdua saja, entah itu jalan-jalan ke kebun teh, atau hanya sekedar makan di tempat dulu kami sering datangi.

Dan tentunya yang selalu kami lakukan adalah berdoa dan memohon pada Allah untuk melindungi dan melanggengkan kehidupan pernikahan yang dijalani

Saya tahu banyak yang mengalaminya juga dan tak jarang ada yang gagal. Tapi banyak juga yang berhasil. Saya dan suami sudah membuktikan, hubungan seperti ini memang berat, tapi bisa juga berhasil kok.

#Tidak ada LDR atau LDM yang abadi, mereka hanya memiliki waktu terbaik untuk bersatu, nikmatilah sampai saat itu tiba.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir,” (QS. Ar Rum : 21).

Design a site like this with WordPress.com
Get started