Long Distance Marriage
Menjalani sebuah pernikahan tapi berjarak
jauh dari pasangan, tentu ini bukan hubungan yang ideal sebagai suami istri. Saya
yakin setiap pasangan menginginkan hubungan dan kondisi yang ideal, tapi karena
banyak hal, kondisi ini mungkin saja terjadi. Seperti saya dan banyak lagi
pasangan lain di luar sana yang mengalaminya.
Pun pernikahan bukanlah tentang
kenikmatan selamanya, tapi tentang hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan
oleh suami istri.
Hidup adalah pilihan, dan setiap
pilihan memiliki resiko dan perjuangan masing masing.
Lalu kenapa memilih LDM? mungkin karena beberapa hal, bisa jadi karena tuntutan pekerjaan. Bisa jadi karena tuntutan pendidikan atau alasan-alasan lainnya.
Langkah awal berpindah ke negara
lain karena tuntutan pekerjaan dan keinginan kuat untuk memperbaiki kehidupan.
Senang karena bisa berpindah bersama-sama satu keluarga utuh. Namun kebahagiaan
itu tidak lama, tempat pekerjaan kami terletak di daerah yang jauh dari kota
dan tidak tersedia sekolah yang sesuai dengan usia anak pertama kami yang saat
itu baru menginjak kelas 10.
Sekejap kondisi berubah drastis, panik
dan tidak tahu harus bagaimana. Kami tidak menyangka sama sekali, karena hal
ini sudah dibahas jauh-jauh hari sebelum kami menyetujui untuk berangkat. Kenyataannya
belum genap satu bulan kami di sini, si sulung harus segera kembali ke
Indonesia, atau dia tidak akan sekolah, miris. Kami galau, karena dia harus
pulang sendirian! Padahal dia belum pernah bepergian jauh sendiri. Kami pasrahkan
semua kepada yang Maha Penjaga, dan Alhamdulillah dia bisa selamat sampai di
tujuan.
Satu tahun kemudian, hal serupa harus
terjadi lagi pada anak kedua kami, kali ini bersamaan dengan jadwal cuti di
tahun pertama. Kami bisa mengantar anak kedua kami untuk kembali dan dengan
sangat berat hati harus tinggal berjauhan. Kedua anak kami tinggal bersama
kakak saya.
Menjalani hidup berpisah jauh dari
anak-anak adalah perjuangan. Sering kali emosi teraduk-aduk, perbedaan waktu
dan komunikasi yang tidak selalu lancar, bercampur dengan beban pekerjaan yang berat,
sungguh tidak mudah untuk dilewati.
Hanya doa-doa yang selalu dipanjatkan
dalam diam dan hening kami. Tekad dan komitmen yang membuat kami bisa bertahan.
Di tahun ketiga, saya memutuskan
untuk mengakhiri pekerjaan dan meninggalkan suami demi anak-anak. Saya kembali
ke Indonesia, untuk perjuangan baru lainnya.
Bukan hal mudah ketika pasangan suami istri berkomitmen untuk menjalani LDM. Diperlukan kepercayaan dan keikhlasan, komitmen yang kuat, keterbukaan dan komunikasi. Tidak jarang kami beradu pendapat terutama masalah anak-anak. Berpisah dengan anak-anak selama 2 tahun membuat segalanya berubah. Seringkali saya merasa rapuh dan menangis di banyak malam.
Waktu saya diisi dengan melanjutkan
kuliah, sehingga ada aktifitas yang saya jalani, dan saya tekadkan untuk fokus
dan selesai tepat pada waktunya.
Jadi, apa yang kami lakukan untuk
menjaga kehidupan kami?
Kepercayaan dan Ikhlas. Bohong jika saya tidak punya pikiran macam-macam pada suami. Tapi jika saya mengikuti kehawatiran saya, tentu akan habis energi saya. Begitupun suami, dia menaruh kepercayaan pada saya untuk menyelesaikan kuliah dengan sebaik-baiknya dan mengurus anak-anak. Kami ikhlas menjalaninya.
Komitmen. Kami memanfaatkan moment untuk saling mengingatkan niat dan tujuan awal ketika kami memulai langkah ini. Bagaimana kami sama-sama merangkak dari nol. Semua perjuangan yang kami lewati bersama, dan pencapaian yang kami dapat tidak ada yang cuma-cuma, tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Itu yang membuat kami mengingat komitment kami dan semakin kuat.
Komunikasi. Bersyukurlah pada teknologi, jarak yang tidak dekat bukan alasan untuk tidak menjadi dekat. Walaupun kadang di banyak waktu, jaringan yang jelek membuat jengkel. Tidak jarang juga kami bertengkar di telepon atau di WA terutama terkait perkembangan anak-anak, namun kami tetap berkomunikasi walaupun sulit. Hal itu tetap kami jaga demi menjaga cinta kami.
Suamiku memang bukan tipe
laki-laki yang romantis, tapi dia menunjukkan cinta dan sayangnya dengan
caranya sendiri, yang mungkin tidak sama dengan orang lain.
Disetiap jadwal cutinya per 6
bulan sekali dia pulang, kami selalu meluangkan waktu hanya untuk berdua saja,
entah itu jalan-jalan ke kebun teh, atau hanya sekedar makan di tempat dulu
kami sering datangi.
Dan tentunya yang selalu kami lakukan adalah berdoa dan memohon pada Allah untuk melindungi dan melanggengkan kehidupan pernikahan yang dijalani
Saya tahu banyak yang mengalaminya juga dan tak jarang ada yang gagal. Tapi banyak juga yang berhasil. Saya dan suami sudah membuktikan, hubungan seperti ini memang berat, tapi bisa juga berhasil kok.
#Tidak ada LDR atau LDM yang abadi, mereka hanya memiliki waktu terbaik untuk bersatu, nikmatilah sampai saat itu tiba.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir,” (QS. Ar Rum : 21).